Ada sebuah pernyataan; bila ada sesuatu yang begitu mahal harganya di dunia ini, maka bukanlah berlian ratusan karat atau emas setinggi gunung, tapi dialah persahabatan. Sahabat adalah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan. Dialah ladang hati yang dengan kasih kautaburi. Dan, kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Begitu sebait syair Kahlil Gibran bertutur dengan indah.
Kalau nggak punya sahabat bisa gila?
Menurut penelitian psikologi, salah satu ciri seseorang sehat jiwanya adalah adanya seorang sahabat di sisinya. Logis, secara manusia itu makhluk sosial. Lihat deh kasus-kasus orang yang stres atau depresi, selain masalah ekonomi, tiadanya tempat curhat atau berbagi juga menjadi sebab. Kalau sudah stres tingkat parah, bisa bunuh diri lho. Oh, seraaam!
Nah, buat remaja, kehadiran seorang sahabat juga krusial, sebab karakter jiwa remaja yang cenderung labil (hei, nggak semua lho) dan pencarian jati diri (kalimat umat alias udah sering banget diulang-ulang), membuat kita mencari sandaran hati. Mencari “tong sampah”, tempat sharing, berbagi suka-duka-luka. Cuma, dalam pencarian tersebut, sering kali persahabatan yang ada tidaklah sejati. Persahabatan hanya sebagai “topeng” pergaulan, simbol status, atau kesamaan kepentingan yang cenderung duniawi belaka. Di luar kelihatan kompak, tapi saat dihadapkan pada masalah, kelihatan deh aslinya.
Maka sering kita saksikan, demi pertemanan atau persahabatan, seseorang rela mengubah atau menyembunyikan kepribadiannya. Melakukan aktivitas nggak oke bin asyik seperti merokok, ngebut, bullying terhadap teman lain, bahkan nyicip narkoba, atas nama solidaritas pertemanan. Jadilah, persahabatan menjadi pseudo, semu. Kasus paling baru, Geng Nero di Pati, Jawa Tengah. Nggak habis pikir deh, kok bisa menggojlok anggota dengan kekerasan? Kok bisa satu lawan sepuluh? Kok mau-maunya “direndahkan” untuk sebuah kebanggaan semu bernama “geng”?
Oke, kalau menganalisis soal geng memang nggak bisa pakai “pisau analisis” bernama persahabatan semata, ada banyak faktor. Back to Tukul eh laptop, mending kita gali gimana sebenarnya persahabatan yang asyik itu? Gimana cara mencari sahabat sejati? Gimana cara masuk surga lewat jalur persahabatan? Bisa…? Tentu dong!
4 K cari sahabat
Islam memang dahsyat. Konsep pertemanan alias ukhuwah dalam Islam juga dahsyat. Jaminannya surga, padahal “cuma” saling mencinta dengan sahabat. Ada di Qur’an, juga di hadits. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Q. S. Al Hujurat: 10) dan “Di hari akhir nanti Allah bertanya: Mana si fulan dan si fulan yang saling mencinta karena Aku? Hari ini--saat tidak ada naungan selain naungan-Ku--maka dua orang yang saling mencinta berada dalam naungan-Ku.” (Shahih Muslim).
Simpel banget, cuma satu kata: cinta. Masalahnya, ngomong cinta memang gampang, tapi membuktikan? Gampang juga kok… gampang-gampang susah, hehe...
Ada beberapa patokan dalam menjalin persahabatan, kita sebut saja 4 K (halah, kok kayak program pemerintah yak!):
1. ketelitian
”Seseorang mengikuti ’agama’ teman dekatnya; karena itu telitilah dengan siapa ia berteman dekat”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Pernah nggak kita berpikir: Kok saya udah berteman dengannya tapi nggak ada kemajuan ya? Kualitas gini-gini aja? Lha kok, kualitas diri bergantung pada sahabat? Oh, tentu. Jelas kan di hadits di atas? Kalau mau cari contoh, ada begitu banyak orang berhasil—salah satunya karena pengaruh dan dorongan sahabat di sisinya. So, coba cek, apakah sahabat kamu: Baik akhlaknya? Baik agamanya? Bisa dipercaya? Menghargai dirinya sendiri? Punya pikiran positif? Suka memotivasi? Dst.
Lantas, kalau nggak seperti deretan syarat di atas, kita nggak boleh bersahabat dengannya? Ya tentu nggak saklek begitu. Namanya juga manusia. Tapi, dengan ketelitian, kita bisa lebih peka terhadap tipe sahabat yang cuma mau enaknya saja. Yang juga penting nih, kalau kata Om Ralph Waldo Emerson, penyair Amrik, “The only way to have a friend is to be one” , terjemahan bebasnya: Kalau pengen punya sahabat, maka berlakulah sebagai seorang sahabat. Take and give lah, jangan cuma mau enaknya aja, pengen punya sahabat yang wuokeh tapi kitanya sendiri nggak mau jadi orang yang wuokeh.
2.kesamaan & kedekatan
Kenapa ada banyak komunitas atau kelompok di dunia ini? Sebab tiap orang suka dengan orang lain yang punya kesamaan dengannya. Yang suka buku, tentu nyambung dengan sesame book lovers. Yang suka makan tentu gendut, eh, tentu suka dekat-dekat sesama pecinta kuliner, dsb. Sudah fitrahnya kok. Kesamaan atau kedekatan terhadap sesuatu biasanya membuat hubungan seseorang dengan orang lain lebih kuat dan nyambung. Tapi, hati-hati, kesamaan suku, ras, atau budaya jangan jadi fanatik. Yang kayak gini nih bibit muncul kelompok macam Ku Klux Klan (ih, jangan sampe!). Kelompok model geng-geng motor atau geng Nero juga cenderung negatif dalam mengartikan kesamaan.
3.keseimbangan
Tawazun juga menentukan kualitas sebuah persahabatan, lho. Maksudnya? Bersikaplah proporsional. Sahabat adalah sahabat, yang punya keinginan, cita-cita, harapan, dan—tentu—jalan hidup yang belum tentu sama dengan kita. Lha wong, DNA sepasang saudara kembar aja beda kok. Jadi, nggak ada kamusnya tuh kita ingin “sama” dan “dekat” dengan sahabat, tapi memaksakan kehendak.
Seimbang adalah suatu sikap, dimana kita menempatkan diri dengan baik, tak berlebihan juga tak menyembunyikan kekurangan. Nida kutip lagi syairnya Om Kahlil Gibran ya: “Bila dia bicara menyatakan pikirannya, kau tidak menakuti bisikan ‘tidak’ di kalbumu sendiri. Pun tiada takut melahirkan kata ‘ya’. Dalam rangkuman persahabatan tanpa kata, segala pikiran, harapan, dan keinginan dicetuskan bersama dan didukung bersama. Dengan suka cita yang utuh, pun tiada disimpan.”
4.kebahagiaan
Tanyalah nurani, apakah kita bahagia bersama sahabat? Ataukah senyum di bibir dan muka happy hanya topeng belaka? Kalau ya, kebahagiaan kita adalah kebahagiaan semu. Apakah keberadaan sahabat membuat hati lapang, atau sebaliknya, malah sesak? Ataukah jauhnya sahabat malah membangkitkan kerinduan mendalam? Sekali lagi, Nida persilakan Om Gibran untuk bicara: “Di saat terpisah dengannya, kau tiada berduka cita, sebab apa yang paling kau kasihi darinya amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan. Sebagaimana sebuah gunung yang nampak lebih agung dari tanah ngarai dataran”.
Last but not least, “Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya kejiwaan. Sebab kasih sayang yang masih mengandung pamrih, di luar misterinya sendiri bukanlah kasih namun, jaring yang ditebarkan. Kekayaan jiwa lah yang akan mengantar kita pada naungan Allah kelak, saat kita bersahabat, mencintainya karena Dia semata.
kata......kata......kata......kata......kata.......
Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, jangan saling mendengki, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diperbolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari. (HR Muslim dan Tirmidzi)
Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menyem-bunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya. (HR Muslim)
Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR Muslim)
Read more...