for arti seorang sahabat bagi saya....

>> Sabtu, 02 April 2011

buat gw....

sahabat nilainya lebih dari materi, lebih dari cinta kepada kekasih terkadang..

kadang kita ini saling berpendapat, kita ini yg terhebat, kesombongan di masa muda yg indah..

tu yg ku tau dari lirik Sahabat Sejati-SO7..

kadang ego mengalahkan segalanya..

kadang kita merasa dikecewakan, dikhianati, diinjak-injak..

sampai kita sndiri brkata, “teganya kau sahabat.. aku ini kau anggap apa?”

pernah kan? pastilah pernah..

namun sempatkah kita berpikir dari sisi lain?

brpikir dari sisi dia?

apakah benar dia yang salah?

dia yang bajingan?

ataukah kita yang tak sadar kita yang brbuat salah?

kita yang khilaf?

kita yang egois?

tak kan pernah ada yg tahu..

berpikir bijak memang sukar.

sahabat, berapa lama sudah dia temani hari-harimu..

tak satu dua hari..

bilakah dia salah, tegur dia.

bilakah dia melangkah jauh, pegang pundaknya dan yakinkan tempat ternyaman adalah di mana terdapat banyak sahabat.

mari berpikir nyata..

sahabat adalah seorang manusia..

seperti aku, kamu, dia, kita dan mereka..

dan manusia adalah makhluk tak sempurna..

penuh kesalahan..

dan guna sahabat adalah menegurnya..

sahabat..

tak ada materi di dunia ini yang mampu menggantikan dia..

*it’s just my opinion about friendship.. mencoba merefleksikan arti sahabat yang pernah mengecewakan gw.. semoga bisa menjadi masukan atau sekedar dibaca saja.. trima kasih..

Read more...

PERSAHABATANMU: SEJATI ATAU SEMU?

>> Selasa, 14 April 2009

Ada sebuah pernyataan; bila ada sesuatu yang begitu mahal harganya di dunia ini, maka bukanlah berlian ratusan karat atau emas setinggi gunung, tapi dialah persahabatan. Sahabat adalah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan. Dialah ladang hati yang dengan kasih kautaburi. Dan, kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih. Begitu sebait syair Kahlil Gibran bertutur dengan indah.

Kalau nggak punya sahabat bisa gila?

Menurut penelitian psikologi, salah satu ciri seseorang sehat jiwanya adalah adanya seorang sahabat di sisinya. Logis, secara manusia itu makhluk sosial. Lihat deh kasus-kasus orang yang stres atau depresi, selain masalah ekonomi, tiadanya tempat curhat atau berbagi juga menjadi sebab. Kalau sudah stres tingkat parah, bisa bunuh diri lho. Oh, seraaam!

Nah, buat remaja, kehadiran seorang sahabat juga krusial, sebab karakter jiwa remaja yang cenderung labil (hei, nggak semua lho) dan pencarian jati diri (kalimat umat alias udah sering banget diulang-ulang), membuat kita mencari sandaran hati. Mencari “tong sampah”, tempat sharing, berbagi suka-duka-luka. Cuma, dalam pencarian tersebut, sering kali persahabatan yang ada tidaklah sejati. Persahabatan hanya sebagai “topeng” pergaulan, simbol status, atau kesamaan kepentingan yang cenderung duniawi belaka. Di luar kelihatan kompak, tapi saat dihadapkan pada masalah, kelihatan deh aslinya.

Maka sering kita saksikan, demi pertemanan atau persahabatan, seseorang rela mengubah atau menyembunyikan kepribadiannya. Melakukan aktivitas nggak oke bin asyik seperti merokok, ngebut, bullying terhadap teman lain, bahkan nyicip narkoba, atas nama solidaritas pertemanan. Jadilah, persahabatan menjadi pseudo, semu. Kasus paling baru, Geng Nero di Pati, Jawa Tengah. Nggak habis pikir deh, kok bisa menggojlok anggota dengan kekerasan? Kok bisa satu lawan sepuluh? Kok mau-maunya “direndahkan” untuk sebuah kebanggaan semu bernama “geng”?

Oke, kalau menganalisis soal geng memang nggak bisa pakai “pisau analisis” bernama persahabatan semata, ada banyak faktor. Back to Tukul eh laptop, mending kita gali gimana sebenarnya persahabatan yang asyik itu? Gimana cara mencari sahabat sejati? Gimana cara masuk surga lewat jalur persahabatan? Bisa…? Tentu dong!

4 K cari sahabat

Islam memang dahsyat. Konsep pertemanan alias ukhuwah dalam Islam juga dahsyat. Jaminannya surga, padahal “cuma” saling mencinta dengan sahabat. Ada di Qur’an, juga di hadits. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Q. S. Al Hujurat: 10) dan “Di hari akhir nanti Allah bertanya: Mana si fulan dan si fulan yang saling mencinta karena Aku? Hari ini--saat tidak ada naungan selain naungan-Ku--maka dua orang yang saling mencinta berada dalam naungan-Ku.” (Shahih Muslim).

Simpel banget, cuma satu kata: cinta. Masalahnya, ngomong cinta memang gampang, tapi membuktikan? Gampang juga kok… gampang-gampang susah, hehe...

Ada beberapa patokan dalam menjalin persahabatan, kita sebut saja 4 K (halah, kok kayak program pemerintah yak!):

1. ketelitian

”Seseorang mengikuti ’agama’ teman dekatnya; karena itu telitilah dengan siapa ia berteman dekat. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Pernah nggak kita berpikir: Kok saya udah berteman dengannya tapi nggak ada kemajuan ya? Kualitas gini-gini aja? Lha kok, kualitas diri bergantung pada sahabat? Oh, tentu. Jelas kan di hadits di atas? Kalau mau cari contoh, ada begitu banyak orang berhasil—salah satunya karena pengaruh dan dorongan sahabat di sisinya. So, coba cek, apakah sahabat kamu: Baik akhlaknya? Baik agamanya? Bisa dipercaya? Menghargai dirinya sendiri? Punya pikiran positif? Suka memotivasi? Dst.

Lantas, kalau nggak seperti deretan syarat di atas, kita nggak boleh bersahabat dengannya? Ya tentu nggak saklek begitu. Namanya juga manusia. Tapi, dengan ketelitian, kita bisa lebih peka terhadap tipe sahabat yang cuma mau enaknya saja. Yang juga penting nih, kalau kata Om Ralph Waldo Emerson, penyair Amrik, The only way to have a friend is to be one” , terjemahan bebasnya: Kalau pengen punya sahabat, maka berlakulah sebagai seorang sahabat. Take and give lah, jangan cuma mau enaknya aja, pengen punya sahabat yang wuokeh tapi kitanya sendiri nggak mau jadi orang yang wuokeh.

2.kesamaan & kedekatan

Kenapa ada banyak komunitas atau kelompok di dunia ini? Sebab tiap orang suka dengan orang lain yang punya kesamaan dengannya. Yang suka buku, tentu nyambung dengan sesame book lovers. Yang suka makan tentu gendut, eh, tentu suka dekat-dekat sesama pecinta kuliner, dsb. Sudah fitrahnya kok. Kesamaan atau kedekatan terhadap sesuatu biasanya membuat hubungan seseorang dengan orang lain lebih kuat dan nyambung. Tapi, hati-hati, kesamaan suku, ras, atau budaya jangan jadi fanatik. Yang kayak gini nih bibit muncul kelompok macam Ku Klux Klan (ih, jangan sampe!). Kelompok model geng-geng motor atau geng Nero juga cenderung negatif dalam mengartikan kesamaan.

3.keseimbangan

Tawazun juga menentukan kualitas sebuah persahabatan, lho. Maksudnya? Bersikaplah proporsional. Sahabat adalah sahabat, yang punya keinginan, cita-cita, harapan, dan—tentu—jalan hidup yang belum tentu sama dengan kita. Lha wong, DNA sepasang saudara kembar aja beda kok. Jadi, nggak ada kamusnya tuh kita ingin “sama” dan “dekat” dengan sahabat, tapi memaksakan kehendak.

Seimbang adalah suatu sikap, dimana kita menempatkan diri dengan baik, tak berlebihan juga tak menyembunyikan kekurangan. Nida kutip lagi syairnya Om Kahlil Gibran ya: “Bila dia bicara menyatakan pikirannya, kau tidak menakuti bisikan ‘tidak’ di kalbumu sendiri. Pun tiada takut melahirkan kata ‘ya’. Dalam rangkuman persahabatan tanpa kata, segala pikiran, harapan, dan keinginan dicetuskan bersama dan didukung bersama. Dengan suka cita yang utuh, pun tiada disimpan.

4.kebahagiaan

Tanyalah nurani, apakah kita bahagia bersama sahabat? Ataukah senyum di bibir dan muka happy hanya topeng belaka? Kalau ya, kebahagiaan kita adalah kebahagiaan semu. Apakah keberadaan sahabat membuat hati lapang, atau sebaliknya, malah sesak? Ataukah jauhnya sahabat malah membangkitkan kerinduan mendalam? Sekali lagi, Nida persilakan Om Gibran untuk bicara: “Di saat terpisah dengannya, kau tiada berduka cita, sebab apa yang paling kau kasihi darinya amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan. Sebagaimana sebuah gunung yang nampak lebih agung dari tanah ngarai dataran”.

Last but not least, “Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya kejiwaan. Sebab kasih sayang yang masih mengandung pamrih, di luar misterinya sendiri bukanlah kasih namun, jaring yang ditebarkan. Kekayaan jiwa lah yang akan mengantar kita pada naungan Allah kelak, saat kita bersahabat, mencintainya karena Dia semata.


kata......kata......kata......kata......kata.......

Jangan saling membenci, jangan saling memusuhi, jangan saling mendengki, dan jangan memutus hubungan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Tidak diperbolehkan seorang Muslim memboikot sesamanya selama lebih dari tiga hari. (HR Muslim dan Tirmidzi)

Siapa saja yang menyembunyikan (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menyem-bunyikan (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba yang gemar menolong saudaranya. (HR Muslim)

Tidaklah kalian akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian (benar-benar) beriman hingga kalian (saling) mencintai. Sukakah kalian jika aku tunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan akan membuat kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR Muslim)


Read more...

Sahabatku, Seribu Satu “Jenis”nya

Namanya manusia, tentu punya karakter berbeda-beda. Begitu pula dalam persahabatan, karakter bisa membuat persahabatan langgeng, namun kadang bisa membuat retak, meski sudah terjalin bertahun-tahun. Berikut beberapa kisah nyata tentang persahabatan, yang mungkin bisa menginspirasi atau mengingatkan tentang arti seorang sahabat...

Soulmate

Ajang curhat dengan seorang sahabat mungkin adalah hal yang biasa. Termasuk saya dan dua sahabat saya lainnya. Tapi sepertinya ajang curhat pagi di bulan Juni setahun yang lalu adalah momen yang luar biasa buat kami bertiga. Saat itu saya seperti tersihir dengan kalimat “Kita kan soulmate, Mbak…” yang ia tuliskan di akhir pembicaraan kami lewat Yahoo Messenger. Saat itu saya memang sedang stres memikirkan persiapan pernikahan. Bukan nasihat atau waktu yang ia berikan untuk mendengar keluh kesah, melainkan kata “soulmate” yang telah memberikan kekuatan pada saya, bahwa saya tidak sendiri menghadapi permasalahan yang ada di depan mata. [Rahma, Bekasi]


Si Positive Thinking

Awalnya aku nggak suka curhat sama sahabatku ini, karena rasanya segala pikiranku selalu tidak didukung. Tapi, aku merasakan, dia berusaha memberi tahu sisi lain. Sudah banyak kasus-kasus “aneh” dalam hidupku yang tumpah ke dia, lewat ngobrol, chatting, atau sambil banjir airmata. Bahkan sampai suatu saat aku seperti tak punya pegangan, dia melindungi aku seperti seorang ibu pada anaknya.

Karena dia, aku bisa menjadi orang yang lebih positif. Dia juga tak segan-segan berbicara dengan orang-orang yang bermasalah denganku, sebab tidak suka melihat perseteruan di antara manusia. Bahkan ada seorang teman yang “sangat aneh” mengaku, cuma dia teman yang cocok. Ternyata, dia pun bisa berteman baik dengan orang-orang yang “aneh”. [Onit, Semarang]

Bantuan Tak Terduga Dari si “Musuh”

Selama kuliah di FE Unpad, aku mempunyai banyak sahabat dengan berbagai macam karakter. Satu di antaranya punya karakter unik, sebut saja Arman. Arman pandai dan suka membantu teman-teman. Namun entah kenapa, setiap kami bertemu, tak sampai 5 menit kemudian akan berubah menjadi pertengkaran. Teman-teman sekelas sampai menyebut kami “anjing dan kucing”. Banyak yang bilang, kami sama-sama keras kepala, sehingga perbedaan pendapat tentang materi kuliah pun selalu jadi ajang pertengkaran kami. Walau demikian, kami selalu bekerja sama dengan baik dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan ataupun asistensi, karena kami punya beberapa visi yang sama.

Sampai saat pengerjaan skripsi, aku bertanya pada teman tempat penyewaan komputer terdekat, karena aku tak punya komputer pribadi. Tiba-tiba saja Arman nimbrung pada obrolanku dengan teman-teman. Dia langsung menawarkan komputer miliknya—Arman sendiri lulus lebih dulu dariku. Tentu saja akuu terkejut, namun tak mel3watkan kesempatan baik itu. Bukan sekadar meminjamkan, Arman bahkan mengantarkan komputernya ke rumahku. Selama tiga bulan komputer Arman menemaniku menyelesaikan skripsi. [Fithriyah, Chiba-Jepang]

Bantuan Tak Terduga Dari si “Musuh”

Selama kuliah di FE Unpad, aku mempunyai banyak sahabat dengan berbagai macam karakter. Satu di antaranya punya karakter unik, sebut saja Arman. Arman pandai dan suka membantu teman-teman. Namun entah kenapa, setiap kami bertemu, tak sampai 5 menit kemudian akan berubah menjadi pertengkaran. Teman-teman sekelas sampai menyebut kami “anjing dan kucing”. Banyak yang bilang, kami sama-sama keras kepala, sehingga perbedaan pendapat tentang materi kuliah pun selalu jadi ajang pertengkaran kami. Walau demikian, kami selalu bekerja sama dengan baik dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan ataupun asistensi, karena kami punya beberapa visi yang sama.

Sampai saat pengerjaan skripsi, aku bertanya pada teman tempat penyewaan komputer terdekat, karena aku tak punya komputer pribadi. Tiba-tiba saja Arman nimbrung pada obrolanku dengan teman-teman. Dia langsung menawarkan komputer miliknya—Arman sendiri lulus lebih dulu dariku. Tentu saja akuu terkejut, namun tak mel3watkan kesempatan baik itu. Bukan sekadar meminjamkan, Arman bahkan mengantarkan komputernya ke rumahku. Selama tiga bulan komputer Arman menemaniku menyelesaikan skripsi. [Fithriyah, Chiba-Jepang]

Menghindar dari Sahabat

Saat SMP dan SMA, saya belum tahu apa arti sahabat sesungguhnya. Bagi saya sahabat sekadar teman jalan bareng. Memasuki bangku kuliah, saya mulai bergaul dengan banyak teman akhwat. Perhatian tulus mereka kadang membuat saya merasa risih. Bagi saya, yang terbiasa sendiri, perhatian mereka malah membuat saya su’udzan. Apakah mereka tulus sayang sama saya? Sapaan “ana uhibbuki ilaiki fillah, ya ukhti”, kadang membuat saya eneg. Lama-lama, saya mulai menghindar dari mereka, karena merasa tidak pantas berada di “dunia'” mereka yang penuh cinta.

Hingga suatu hari, dua orang akhwat mengirim surat kepada saya, mempertanyakan mengapa saya tiba-tiba berubah. Padahal dulu segala sesuatu pasti dikerjakan bersama--kebetulan kami satu jurusan dan satu aktivitas di kampus. Saya tetap bergeming, mendiamkan mereka. Meski begitu sikap mereka tidak berubah sedikit pun. Kadang timbul perasaan rindu, tapi gengsi bagi saya saat itu untuk menyapa mereka lebih dulu. Di beberapa aktivitas, saya mulai merasa tersingkir. Kok jadi mereka yang pegang kendali, padahal yang merintis aktivitas tersebut kan saya? Perasaan itu terus berjalan, selama satu tahun.

Lama-lama, saya berusaha positive thinking. Apa salah mereka? Saya sadar, mungkin itu penolakan diri saya terhadap kekurangan saya. Saya merasa lebih baik dari mereka, padahal kenyataannya tidak. Ketika akhirnya tangan-tangan mereka kembali menyambut saya, bagi saya itu adalah salah satu titik balik hidup saya. [Ajeng, Jakarta]




Read more...

DOA PANJANG SABAR

Dalam berdoa, pada umumnya kita meminta hal-hal yang wujudnya berada di luar diri kita, tak cepat habis (kalaupun habis langsung kelihatan), dan dapat dinikmati kapan saja. Itulah mengapa kita lebih sering dan banyak meminta hal dengan spesifikasi yang ketat seperti rumah (yang bagus), mobil (yang keren), anak (yang ganteng/cantik), tanah (yang luas), naik haji (yang mabrur), naik kelas (yang ranking), naik jabatan (yang tinggi), istri (yang cantik). Ternyata, tujuan doa kita pun untuk hal yang simpel saja: memiliki dan menggunakannya.

Itulah alasan mengapa kita jarang meminta hal-hal yang justru berada di dalam diri kita dan langsung menentukan karakter diri kita. Salah satunya adalah kesabaran. Dalam Al-Quran, ada dua kalimat doa yang sama bunyinya tentang kesabaran, yaitu: Rabbana afrigh alayna shabran... (Al-Baqarah ayat 250 dan Al-A’raf 126). Doa itu bermakna sama: kita memohon agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Mengapa Allah mewajibkan kita agar memohon diberikan kesabaran? Karena ternyata sabar adalah potensi yang tidak diproduksi oleh jiwa kita. Seperti vitamin C, kesabaran harus diasup dari luar diri kita, dalam hal ini langsung dari Allah, karena Dia-lah pemilik kesabaran. Kita tak pernah sanggup memproduksi kesabaran, oleh karenanya kita sering mengeluh dan marah: kesabaranku sudah habis!

Persoalannya: kita tak pernah menyadari hal ini, karena doa kita sudah dikerangkeng oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang sangat materialistik. Doa-doa kita lebih sering berisi hitung-hitungan matematis yang mirip kalkulator. Padahal, seluruh isi doa itu sangat berpotensi menimbulkan masalah yang sumber solusinya adalah kesabaran. Jadi, marilah kita memulai untuk mengisi doa-doa kita juga dengan menyertakan permintaan agar Allah menganugerahi kita kesabaran. Jadi, bukan cuma doa panjang rezeki yang kita panjatkan, tapi juga doa panjang sabar.

Read more...

>> Selasa, 07 April 2009

hai...selamat datang

Read more...